SEMARANG – Minat masyarakat Kota Semarang terhadap layanan KB pria mengalami peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Program vasektomi yang sebelumnya kurang diminati kini menjadi salah satu metode kontrasepsi yang paling banyak diakses warga.
Kepala Disdalduk KB Kota Semarang, Lilik Farida, mengatakan bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi faktor utama meningkatnya partisipasi KB pria. Banyak pasangan suami istri kini mulai melihat vasektomi sebagai opsi aman dan efektif dalam perencanaan keluarga.
Menurutnya, masyarakat kini semakin memahami bahwa KB bukan hanya tanggung jawab perempuan. Partisipasi laki-laki diperlukan agar program KB berjalan optimal dan mampu menciptakan keluarga yang sehat.
Tren peningkatan minat vasektomi didukung oleh intensitas edukasi yang terus dilakukan pemerintah daerah. Disdalduk KB secara rutin melakukan sosialisasi menyasar keluarga muda, kader KB, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal.
Selain edukasi, pemerintah juga mempermudah layanan melalui model jemput bola. Mobil MUYAN KB turun ke titik-titik permukiman untuk memberikan pelayanan langsung. Dalam satu bulan, tim Disdalduk KB turun ke lapangan sebanyak 20 kali.
Di sisi lain, masyarakat yang tidak memiliki kendaraan diberikan fasilitas penjemputan. Lilik menyebut layanan ini sangat membantu keluarga yang ingin mengikuti program KB namun terkendala transportasi.
Tahun ini, layanan vasektomi mencatat lebih dari 100 peserta. Angka tersebut melampaui capaian tahun sebelumnya yang baru mencapai 46 persen. Lilik menyebut bahwa meningkatnya rasa percaya masyarakat menjadi faktor penting.
Kepercayaan itu tumbuh seiring kerja sama dengan dokter spesialis bedah dan urologi dari sejumlah rumah sakit di Semarang. Banyak warga merasa lebih tenang jika tindakan dilakukan oleh tenaga medis ahli.
Selain vasektomi, permintaan metode kontrasepsi jangka panjang seperti implan dan IUD tetap tinggi. Bahkan, tindakan MOW atau sterilisasi permanen pada perempuan menunjukkan tren peningkatan.
Sebagai bentuk dukungan, peserta vasektomi mendapatkan insentif Rp1 juta dari pemerintah. Insentif ini menjadi stimulus bagi keluarga yang ingin ber-KB namun memiliki keterbatasan biaya.
Lilik menambahkan bahwa rata-rata peserta vasektomi berusia sekitar 33 tahun dan telah memiliki dua anak. Namun, tindakan dapat dilakukan lebih cepat jika istri memiliki kondisi medis tertentu.
Perubahan positif ini diharapkan mampu memperkuat upaya Kota Semarang dalam menekan angka stunting. Menurut Lilik, keluarga yang merencanakan jarak kelahiran secara tepat lebih mampu memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Ia menegaskan bahwa edukasi KB adalah investasi jangka panjang untuk kualitas generasi masa depan. Pemerintah ingin masyarakat melihat KB sebagai pilihan sadar, bukan paksaan, demi kesejahteraan keluarga.

