Jakarta – Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada penutupan perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Penguatan harga minyak terutama dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta aktivitas kelompok Houthi di Yaman.
Berdasarkan laporan CNBC pada Selasa, 21 Juli 2026, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan pasar global naik sebesar 1,3 persen dan ditutup pada level US$89,22 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI menguat 0,9 persen menjadi US$83,23 per barel.
Secara keseluruhan, harga minyak mentah dunia tercatat telah meningkat sekitar 20 persen sepanjang Juli 2026. Lonjakan tersebut terjadi seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah, terutama perang antara Amerika Serikat dan Iran serta perlawanan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.
Ketegangan antara Washington dan Teheran semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ancaman keras kepada Iran menyusul tewasnya tiga personel militer AS.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi besar setiap kali terdapat tentara Amerika yang menjadi korban.
Trump juga menyatakan bahwa arahan tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Daniel Caine, serta seluruh pimpinan militer Amerika Serikat.
Pernyataan Trump tersebut sempat mendorong harga minyak Brent melonjak hampir 4 persen hingga menembus level US$90 per barel.
Namun, kenaikan harga minyak kemudian sedikit mereda setelah Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyampaikan bahwa peluang negosiasi dengan Amerika Serikat masih terbuka.
Iran, menurut Baghaei, bersedia melakukan perundingan selama proses tersebut tetap sejalan dengan kepentingan nasional Teheran.
Selain konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh pengumuman embargo maritim terhadap Arab Saudi yang disampaikan kelompok Houthi di Yaman.
Embargo tersebut dikhawatirkan dapat memperburuk gangguan terhadap distribusi dan pasokan minyak dunia.
Kelompok Houthi juga kembali mengancam akan menutup Selat Bab el-Mandeb. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Laut Merah dengan pasar perdagangan global.
Ancaman penutupan jalur tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar karena Selat Bab el-Mandeb memiliki peran penting dalam distribusi energi dunia.
Dalam beberapa waktu terakhir, Arab Saudi diketahui telah mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui jaringan pipa menuju terminal ekspor di Laut Merah.
Jalur alternatif tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran pasokan minyak global di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

