SEMARANG – Pembukaan Festival Kota Lama (FKL) 2025, Senin (8/9) malam, memikat hati ribuan pengunjung. Salah satunya Rara, wisatawan asal Bandung, yang terkesan dengan harmoni musik Jawa berpadu dengan orkestra internasional di Laroka Theater, Kota Lama Semarang.
“Buat kita bagus banget dari performanya. Mungkin tinggal ditambah kursi dan papan penunjuk arah parkir supaya lebih nyaman,” ucap Rara. Meski datang dari luar kota, ia menilai pengalaman di Kota Lama sangat berkesan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, dalam sambutannya menyebut Festival Kota Lama bukan hanya ajang hiburan, tetapi simbol persatuan melalui seni dan budaya. Tema tahun ini, Color of Unity, dianggap relevan untuk menegaskan kebersamaan dalam keberagaman.
“Tradisi dan inovasi berpadu di sini. Kota Lama adalah cermin masa lalu sekaligus kanvas bagi masa depan,” kata Agustina.
Selain menampilkan orkestra Belanda dengan sentuhan musik Jawa, pembukaan juga menghadirkan kolaborasi pelajar Semarang di bawah arahan conductor Johny Rahaket.
Kawasan heritage Kota Lama semakin hidup dengan rangkaian acara, mulai dari Jazz Kota Lama, Fiesta Folklore Nusantara, hingga pameran Pikat Wastra Nusantara dan Royal Hanbok Exhibition.
Festival ini melibatkan banyak pihak: pemerintah, komunitas seni, UMKM, hingga mitra internasional. “Semua berkolaborasi, ini yang membuat FKL istimewa,” imbuh Agustina.
Rara menilai festival ini layak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. “Perjalanan jauh saya terbayar, apalagi suasana Kota Lama memang unik,” katanya.
Dengan antusiasme warga dan wisatawan, Festival Kota Lama 2025 diproyeksikan menjadi momentum peningkatan wisata dan ekonomi kreatif Semarang.
Reporter: Ismu Puruhito

