SEMARANG – Regulasi menjadi salah satu faktor krusial dalam mendukung prestasi olahraga Jawa Tengah. Isu ini mengemuka dalam diskusi olahraga yang digelar Siwo PWI Jateng di Hotel Noormans, Semarang, Selasa (9/9/2025).
Diskusi menghadirkan Kadisporapar Jateng Muhamad Masrofi, Wakil Ketua II KONI Jateng Soedjatmiko, anggota Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid, dan Ketua Umum PBSI Jateng Basri Yusuf.
Masrofi menyoroti keterbatasan APBD yang menjadi tumpuan utama pembiayaan olahraga. Ia berharap adanya revisi Permenpora Nomor 14 agar CSR swasta lebih leluasa masuk ke dunia olahraga. “Kalau aturannya tidak berubah, sulit mengandalkan CSR. Harapannya ada regulasi baru pasca pergantian menteri,” ungkapnya.
Soedjatmiko menilai meski KONI Jateng sudah menerapkan strategi SWOT dalam pembinaan, kelemahan terbesar tetap soal anggaran dan regulasi yang membatasi akses pendanaan.
Abdul Hamid menekankan peran DPRD dalam memperjuangkan regulasi dan anggaran yang berpihak pada atlet. “Ekosistem olahraga sehat hanya bisa terwujud bila ada dukungan hukum yang jelas,” katanya.
Basri Yusuf menambahkan bahwa regulasi juga harus mendorong peningkatan kualitas pelatih bersertifikasi. Menurutnya, tanpa pelatih berkualitas, sulit mencetak atlet berprestasi berkelanjutan.
Diskusi dibuka oleh Ketua KONI Jateng Bona Ventura Sulistiana yang mengapresiasi keterlibatan Siwo PWI dalam mengawal isu strategis olahraga.
Ketua PWI Jateng Amir Machmud menyebut tema diskusi sejalan dengan Musorprov KONI yang akan membahas penguatan landasan pembinaan olahraga.
Menurut para narasumber, regulasi yang lebih adaptif menjadi kunci agar pendanaan dan pembinaan olahraga tidak stagnan.
Dengan regulasi yang berpihak, diharapkan Jawa Tengah mampu mempertahankan posisi elit dalam peta olahraga nasional.
Reporter: Ismu Puruhito

