Lainya

    Distribusi Dokter Masih Timpang, AIPKI Diminta Turun Tangan

    SEMARANG – Tantangan dunia kesehatan di Jawa Tengah bukan hanya jumlah dokter yang kurang, tetapi juga penyebarannya yang tidak merata. Hal itu disampaikan Dirjen Dikti Khairul Munadi dalam Musyawarah Wilayah AIPKI Wilayah IV di Semarang, Jumat (19/9).

    “Banyak daerah yang kekurangan dokter, sementara di kota besar justru menumpuk. Pemerataan distribusi harus menjadi agenda bersama,” kata Khairul.

    Ia menegaskan perlunya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan rumah sakit. “Pendidikan kedokteran tak bisa berdiri sendiri. Kampus baru harus didukung fasilitas rumah sakit pendidikan agar menghasilkan lulusan yang siap praktik,” tegasnya.

    Sekda Jateng, Sumarno, menambahkan bahwa kebutuhan dokter di provinsinya masih kurang 16.458 orang. “Jumlah ideal menurut WHO adalah satu dokter per seribu penduduk. Saat ini kita baru mencapai 40 persen dari kebutuhan,” ujarnya.

    Sumarno juga mendorong adanya edukasi publik mengenai pentingnya profesi dokter. “Kita harus dorong generasi muda tidak ragu masuk fakultas kedokteran,” katanya.

    Pemerintah pusat pun berencana membuka 158 prodi kedokteran baru hingga 2045. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi krisis tenaga medis nasional.

    Tonang Dwi Ardyanto dari AIPKI mengatakan pihaknya berkomitmen menjaga mutu pendidikan kedokteran meskipun jumlah fakultas terus bertambah.

    Forum AIPKI kali ini juga membahas penyediaan beasiswa, kerja sama riset, dan inovasi kurikulum agar lulusan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

    Kolaborasi lintas sektor dianggap sebagai kunci memperbaiki ketimpangan distribusi dokter di Indonesia.

    Reporter: Ismu Puruhito

    Artikel Terbaru

    Artikel Terkait

    Leave a reply

    Please enter your comment!
    Please enter your name here