SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang terus menyiapkan langkah strategis untuk menguatkan sektor ekonomi kreatif, terutama di bidang perfilman. Melalui kegiatan Workshop dan Mini Lab Lawang Sewu Short Film Festival 2025 yang digelar Kamis (23/10) di Hotel Kotta, pemerintah ingin memastikan anak muda mendapatkan ruang belajar dan berinovasi.
Iswar Aminuddin yang mewakili Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan bahwa industri kreatif memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. “Anak-anak muda hari ini punya imajinasi tanpa batas. Kita hanya perlu memberi ruang dan dukungan agar mereka bisa menciptakan karya yang berdampak,” ujarnya.
Menurut Iswar, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi sosial dan alat promosi ekonomi. Banyak lokasi wisata, katanya, menjadi populer setelah ditampilkan dalam karya film.
“Film bisa membangkitkan ekonomi lokal. Dari satu lokasi syuting saja, bisa membuka peluang baru bagi UMKM, kuliner, hingga sektor pariwisata,” tambahnya.
Ia mengapresiasi kehadiran komunitas film, mentor, dan akademisi yang membimbing peserta dalam kegiatan ini. Semarang, katanya, tengah membangun ekosistem kreatif yang terintegrasi antara pendidikan, seni, dan kewirausahaan.
“Melalui Mini Lab ini, kami ingin membentuk generasi sineas yang tidak hanya piawai di kamera, tapi juga punya jiwa wirausaha,” jelasnya.
Iswar menilai bahwa semangat kolaborasi dan gotong royong menjadi pondasi utama pengembangan industri kreatif. Pemerintah, komunitas, dan pelajar harus menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan.
Kisah sukses Pantai Tiram menjadi contoh konkret bagaimana karya film pelajar mampu menggerakkan ekonomi warga. “Dari lokasi syuting sederhana, sekarang bisa jadi tempat wisata dengan ribuan pengunjung. Itu kekuatan film,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat jejaring antar-komunitas film, memperkenalkan teknologi perfilman terbaru, dan menumbuhkan kepercayaan diri para sineas muda agar mampu menembus festival film nasional.
“Semarang bukan kota penonton, tapi kota pelaku. Kita harus menghasilkan karya, bukan hanya menikmati,” tegas Iswar.
Ia menambahkan, Pemkot Semarang akan terus membuka ruang kreatif baru di berbagai kecamatan, termasuk program creative hub yang akan terintegrasi dengan sekolah dan kampus.
“Anak muda harus jadi pusat perubahan, dan pemerintah akan terus di belakang mereka,” pungkasnya.
Reporter: Raffa Danish

