SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang terus memperkuat sistem mitigasi banjir melalui modernisasi rumah pompa dan normalisasi kolam retensi.
Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju kota tangguh air yang mampu menghadapi perubahan iklim ekstrem.
Kepala DPU Kota Semarang Suwarto menyebutkan, proses modernisasi sudah berjalan di beberapa titik vital seperti Tenggang, Sringin, Waru, dan Muktiharjo Kidul.
“Total nanti enam pompa baru di Tenggang dan lima di Sringin. Semua dengan kapasitas besar 2.000 liter per detik,” katanya.
Menurutnya, penggantian sistem lama dengan teknologi baru tidak hanya mempercepat pembuangan air, tapi juga menekan biaya perawatan jangka panjang.
“Pompa baru menggunakan sistem otomatis, sehingga bisa menyesuaikan debit air secara digital,” jelasnya.
Selain itu, DPU juga menyiapkan program pengerukan kolam retensi Muktiharjo agar daya tampung air kembali optimal. Pengerjaan dijadwalkan dilakukan pada 2026 secara swakelola.
Suwarto menambahkan, Pemkot kini menyiapkan sistem integrasi antar rumah pompa agar kinerja pembuangan lebih sinkron.
“Kita tidak bisa bekerja parsial. Semua pompa dan saluran akan terkoneksi dalam sistem pemantauan terpadu,” ungkapnya.
Dukungan pemerintah pusat turut memperkuat langkah tersebut. Wakil Menteri PUPR Diana Kusumastuti dalam kunjungannya ke Semarang menilai, proyek ini adalah contoh baik penanganan banjir yang tidak reaktif tetapi berbasis perencanaan jangka panjang.
“Yang dilakukan Semarang ini langkah maju. Fokusnya bukan hanya tanggap darurat, tapi pengendalian sistematis dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Diana, pengendalian banjir bukan sekadar urusan infrastruktur fisik, tetapi juga tata kelola air yang melibatkan berbagai sektor, termasuk masyarakat dan pelaku usaha.
Pemkot Semarang menargetkan seluruh pekerjaan pompa selesai pada akhir 2025. Setelah itu, akan dilakukan integrasi sistem data curah hujan dan ketinggian air agar pengawasan berjalan real time.
Dengan sistem digital tersebut, petugas dapat memantau kondisi pompa dan volume air secara langsung, meminimalkan risiko kerusakan serta mempercepat respons saat banjir datang.
Upaya ini menjadikan Semarang salah satu kota pionir dalam implementasi teknologi pengendalian banjir di Indonesia. (*)
Reporter: Ismu Puruhito

