SEMARANG – Program bisyarah yang diperluas Pemkot Semarang pada 2025 bukan hanya bantuan finansial, tetapi juga pengakuan terhadap peran masyarakat yang kerap terabaikan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menyebut guru TPQ, madrasah diniyah, sekolah Minggu, pinandita, pendidik Pos PAUD, marbot, modin, hingga perawat jenazah sebagai pilar sosial yang menjaga harmoni kota.
“Dengan bisyarah, kami ingin sampaikan bahwa mereka adalah bagian penting dari pembangunan Semarang,” ujarnya.
Kebijakan ini menaikkan jumlah penerima secara signifikan, di antaranya perawat jenazah menjadi 1.000 orang dan marbot menjadi 885 orang. Guru keagamaan naik menjadi 5.260 orang, sementara pendidik Pos PAUD mencapai 200 orang.
Besaran bisyarah bervariasi, mulai Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per bulan, tergantung peran dan tanggung jawab masing-masing penerima.
Agustina menegaskan, kota tidak hanya dibangun dengan beton dan aspal, tetapi juga dengan kasih sayang, kepedulian, dan nilai gotong royong.
Program bisyarah diharapkan memperkuat ketahanan sosial, meningkatkan motivasi masyarakat, serta menumbuhkan rasa kebersamaan.
Warga penerima menyambut positif. Mereka menilai bisyarah sebagai bentuk penghormatan atas tugas yang mereka jalani dengan dedikasi penuh.
Selain itu, program ini juga dianggap relevan dengan tren kota modern yang menaruh perhatian pada kesejahteraan sosial.
Pemkot Semarang memastikan program ini terus berlanjut dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Tag: apresiasi bisyarah, penghargaan sosial, program Pemkot Semarang, guru agama, marbot, perawat jenazah, pendidikan inklusif
Reporter: Ismu Puruhito

