Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi ancaman bom yang terjadi di SD Negeri Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan.
Ancaman tersebut terjadi bertepatan dengan hari pertama masuk sekolah. Pramono menilai peristiwa itu tidak seharusnya membuat masyarakat diliputi ketakutan secara berlebihan.
Menurutnya, segala bentuk ancaman tetap harus dihadapi dengan tenang, tanpa mengabaikan langkah-langkah pengamanan.
“Jangan sampai karena ada pihak yang mencoba menakut-nakuti pada hari pertama sekolah, kemudian semuanya menjadi takut. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Senin.
Pramono juga meminta aparat penegak hukum mengusut secara mendalam motif di balik ancaman tersebut. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi, baik di sekolah tersebut maupun di wilayah lainnya.
Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari Gegana, Densus 88 Antiteror Polri, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme telah melakukan pemeriksaan dan penyisiran di lingkungan sekolah.
Kapolsek Jagakarsa Kompol Nurma Dewi mengatakan proses penyisiran berlangsung sekitar empat jam. Pemeriksaan juga melibatkan anjing pelacak untuk memastikan tidak terdapat benda berbahaya maupun mencurigakan.
Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan, area sekolah dinyatakan dalam kondisi aman. Petugas tidak menemukan barang mencurigakan di lokasi.
Akibat kejadian tersebut, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada hari pertama terpaksa dihentikan dan para siswa dipulangkan.
Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan memastikan kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan normal pada Selasa, 14 Juli 2026.
Proses pembelajaran akan berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan tanpa agenda khusus. Seluruh siswa, guru, dan unsur sekolah akan kembali mengikuti kegiatan sebagaimana biasanya.
Pihak Suku Dinas Pendidikan Jakarta Selatan juga menyampaikan bahwa sejauh ini tidak ditemukan indikasi adanya siswa maupun tenaga pendidik yang mengalami trauma akibat peristiwa tersebut.

